RSBI dibubarkan Bukan Tanda Kiamat
Cirebon (17/01),
Dengan dibubarkannya status RSBI/SBI dari sekolah-sekolah SMP-SMA/SMK oleh
mahkamah konstitusi,salah satu organisasi mahasiswa Unswagati (Universitas
Swadaya Gunung Jati) yaitu LPM SETARA (Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang
Rakyat) berinisiatif untuk mengadakan acara diskusi publik yang bertema
“Membongkar Komersialisasi Pendidikan Dalam RSBI”. Acara ini diadakan di gedung aula kampus satu Unswagati dari mulai pukul 13.20 s/d
16.00 WIB. Pada diskusi publik kali ini LPM SETARA mengundang tiga pemateri dan satu moderator, pemateri
yang hadir pada kesempatan ini yaitu Bapak Jojo Sutardjo (Ketua PGRI kota
Cirebon), Bapak Dana Kartiman ( Sekertaris Dinas Pendidikan Kota Cirebon),
Bapak Yohanes Muryadi ( Utusan Dewan Pendidikan Kota Cirebon) dan Moderator
Bapak Indra Yusuf.
LPM
SETARA mengundang beberapa praktisi pendidikan, perwakilan SMA/SMK se-Kota dan
Kabupaten Cirebon,perwakilan dari setiap fakultas di Unswagati,perwakilan dari
bebapa Universitas di Kota Cirebon dan beberapa organisasi eksternal yang
mempunyai peran dalam pendidikan di Kota Cirebon. Kegiatan ini bertujuan agar
masyarakat ,khususnya mahasiswa mengetahui dan membahas masalah penghapusan
RSBI “Masyarakat harus melek terhadap permasalahan yang ada,khususnya
komersialisasi di dunia pendidikan”, ujar Hari Saptarengga sebagai ketua
pelaksana dalam acara Diskusi publik kali ini.
Tiga
hal yang menjadi dasar dihapuskannya status Rintasan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) yaitu Biaya mahal,perbedaan menyebabkan kastanisasi, dan
penggunaan Bahasa Inggris sebagai pengantar dapat mengikis kebudayaan bangsa.
Hal ini di ungkapkan oleh Yohanes Muryadi sebagai utusan dari ketua Dewan
Pendidikan kota Cirebon yang hadir sebagai pemateri dalam diskusi publik yang
diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa SETARA.
Selain
mengungkapkan 3 hal yang mendasari di bubarkannya RSBI Utusan ketua Dewan
Pendidikan tersebut juga menyatakan bahwa “RSBI dibubarkan bukan bertanda
kiamat,tetap semua sekolah berjiwa RSBI yaitu semua berfikir bagaimana sekolah menjadi
nomer satu dengan catatan biaya murah. Karena dulu RSBI hebat maka harus
mahal,sekarang dibalik bagaimana sekolah hebat namun biaya murah,ini tantangan
setiap sekolah.” Ujar Yohanes. (a.s.f)