Kamis, 17 Januari 2013


RSBI dibubarkan Bukan Tanda Kiamat

Cirebon (17/01), Dengan dibubarkannya status RSBI/SBI dari sekolah-sekolah SMP-SMA/SMK oleh mahkamah konstitusi,salah satu organisasi mahasiswa Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati) yaitu LPM SETARA (Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat) berinisiatif untuk mengadakan acara diskusi publik yang bertema “Membongkar Komersialisasi Pendidikan Dalam RSBI”.  Acara ini diadakan di gedung aula kampus  satu Unswagati dari mulai pukul 13.20 s/d 16.00 WIB. Pada diskusi publik kali ini LPM SETARA mengundang  tiga pemateri dan satu moderator, pemateri yang hadir pada kesempatan ini yaitu Bapak Jojo Sutardjo (Ketua PGRI kota Cirebon), Bapak Dana Kartiman ( Sekertaris Dinas Pendidikan Kota Cirebon), Bapak Yohanes Muryadi ( Utusan Dewan Pendidikan Kota Cirebon) dan Moderator Bapak Indra Yusuf.

                LPM SETARA mengundang beberapa praktisi pendidikan, perwakilan SMA/SMK se-Kota dan Kabupaten Cirebon,perwakilan dari setiap fakultas di Unswagati,perwakilan dari bebapa Universitas di Kota Cirebon dan beberapa organisasi eksternal yang mempunyai peran dalam pendidikan di Kota Cirebon. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat ,khususnya mahasiswa mengetahui dan membahas masalah penghapusan RSBI “Masyarakat harus melek terhadap permasalahan yang ada,khususnya komersialisasi di dunia pendidikan”, ujar Hari Saptarengga sebagai ketua pelaksana dalam acara Diskusi publik kali ini.
                Tiga hal yang menjadi dasar dihapuskannya status Rintasan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yaitu Biaya mahal,perbedaan menyebabkan kastanisasi, dan penggunaan Bahasa Inggris sebagai pengantar dapat mengikis kebudayaan bangsa. Hal ini di ungkapkan oleh Yohanes Muryadi sebagai utusan dari ketua Dewan Pendidikan kota Cirebon yang hadir sebagai pemateri dalam diskusi publik yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa SETARA.

                Selain mengungkapkan 3 hal yang mendasari di bubarkannya RSBI Utusan ketua Dewan Pendidikan tersebut juga menyatakan bahwa “RSBI dibubarkan bukan bertanda kiamat,tetap semua sekolah berjiwa RSBI yaitu semua berfikir bagaimana sekolah menjadi nomer satu dengan catatan biaya murah. Karena dulu RSBI hebat maka harus mahal,sekarang dibalik bagaimana sekolah hebat namun biaya murah,ini tantangan setiap sekolah.” Ujar Yohanes. (a.s.f)

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar